Selasa, 21 Desember 2010

kemuliaan manusia

Allah Subhananu wa ta’ala memang Maha Bijaksana. Tetapi juga dengan rahman rahimNya Dia adalah Dzat Pemberi karunia yang agung. Maha Suci Dia Yang telah menciptakan kita sebagai manusia, padahal Dia bisa menciptakan kita sebagai binatang. Kemudian Dia telah menganugerahkan kepada kita hidayahNya, sehingga menjadi insan yang beriman dan memeluk Dinul Islam yang diridhaiNya. Padahal bisa saja hidayah itu diberikanNya kepada orang lain. Tapi hidayah itu telah jatuh kepada kita sebagai Kaum Muslimin, yang berarti kita dipercaya mampu memelihara dan mempertahankan hidayah hingga hembusan nafas terakhir, bahkan diasumsikan mampu membawa dan menyebarkannya kepada semesta alam.

Ditinjau dari sudut manapun, secara teoritis kemuliaan sebagai pribadi maupun komunitas dan ummat seyogyanya telah kita raih. Tetapi konsep atau teori bahkan ajaran tidak selalu terwujud dalam realita. Mengapa ? Karena di sana ada kendala, berupa problem kemauan dan pilihan, dimana kita diberikan kebebasan, tetapi sering tidak sesuai dengan kehendak dan pilihan Allah. Allah Swt. berfirman; ”Allah berkehendak untuk memberimu kejelasan dan menunjukkanmu ke jalan (kemuliaan) orang-orang sebelum kamu serta memberimu ampunan (saat keliru), dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan Allah (benar-benar) ingin menerima taubatmu (agar kamu mengoreksi kekeliruan), tetapi orang-orang yang memperturutkan kesenangan nafsunya menghendaki kamu menyimpang sejauh-jauhnya dari jalan (kemuliaan) itu” (QS. Annisa: 6-27)

Faktor-faktor kemuliaan

Faktor-faktor kemuliaan telah lengkap diberikan Allah kepada kita, semua sisinya telah terpenuhi. Secara fisik, manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang paling indah “fi ahsani taqwim” (QS. Attin: 4). Ketampanan manusia boleh dibandingkan dengan Malaikat, seperti yang diberikan Allah kepada Nabi Yusuf as. Kecantikan para puteri dan bidadari, Allah karuniakan pula kepada kaum wanita ahli syurga.

Secara struktur organik, manusia diberi seperangkat kelengkapan yang tidak diberikan kepada makhluq Allah yang manapun selain mereka. Jika dengan spirit yang ada, para Malaikat taat kepada Allah, maka spirit itupun diberikan kepada manusia. Dengan spirit inilah Maryam al battul beriman kepada firman Allah dan taat kepadaNya (QS. Attahrim: 12). Tetapi manusia lebih kuat dari Malaikat karena manusia diberi akal, yang dengan akal ini nafsunya bisa dikendalikan sehingga geloranya adalah semangat membangun (konstruktif) bukan merusak (destruktif).

Dari sudut ‘positioning’, sejak awal manusia sudah diunggulkan. Ini semata-mata karena konsekuensi dari keputusan Ilahi untuk memuliakan manusia. ”Dan sungguh Kami telah (putuskan untuk) memuliakan Bani Adam, dan telah Kami kerahkan untuk mereka apa yang ada di darat dan di laut, serta telah Kami berikan kepada mereka rezeki yang halal lagi baik (thayyibat), dan telah Kami unggulkan mereka di atas makhluk-makhluk Kami lainnya yang banyak” (QS. Al Isra: 70)
Ibaratnya, manusia itu berdiri tegak di atas pyramida makhluk-makhluk Allah. Dengan posisi dualitasnya, tidak ada yang berada di atas manusia kecuali Maha Pencipta. Manusia hanya bertugas melayani al Khaliq dengan kehambaan, dan semua makhluk lain di bawah pyramida itu telah siap untuk melayaninya.

Pada aspek jalan kemuliaan, manusia telah diberi seperangkat petunjuk (hidayah), yang membimbingnya untuk maju tetapi menghindarkannya dari kesalahan dan penyimpangan. Dia menganugerahkan petunjuk instink agar anak manusia sejak dini dapat memilih yang baik, didukung dengan petunjuk indera sehingga dapat mengamati mana yang berguna dan yang berbahaya, lalu diperkuat dengan petunjuk akal agar dapat mempertimbangkan pilihan yang benar, kemudian dikaruniakannya petunjuk Dinul Islam untuk mengoreksi kelemahan instink, indera dan akal, dan memastikan jalan kemuliaan yang harus ditempuh. Sehingga manusia makin taqarrub kepada Allah dan terhindar dari kemerosotan (deklinasi) kepada “asfala safilin” (QS. Attin: 5), dan iman – amal shalihnyapun terus ditingkatkan.

Sisi lain dari faktor kemuliaan manusia, seperti ditulis Sayid Quthub, adalah ri’ayatullah subhanahu wa ta’ala setelah manusia menerima tugas khilafah di muka bumi. Allah memberi waktu yang cukup bagi manusia untuk mengumpulkan prestasi amal shalihnya, dan untuk mengoreksi kekeliruannya dari waktu ke waktu. Dengan kekuatan wa’yu (kesadaran) yang ada dalam dhamir (hati kecil)nya, keikhlasan saling menasehati antar sesama Muslim dan muhlah (kesempatan) yang selalu disediakan Allah, mereka bukan saja mampu kembali ke jalan yang benar (the right track), tetapi dapat meningkatkan prestasi kebajikan.

Dengan ri’ayahNya, Allah membebaskan tuntutan atas kekeliruan yang dilakukan manusia karena kekhilafan dan ketidak tahuan, asal segera disadari. Kesalahan dan dosa yang terlanjur diperbuat pun hanya dihukum dengan yang setimpal, sedangkan sebuah kebajikan insani yang berhasil dilaksanakan, dibalas dengan sepuluh lipat kebaikan Ilahi. Maknanya bahwa proses menuju kemuliaan tidak akan mandeg apalagi mundur ke belakang (set back) dengan terjadinya kekeliruan di sana-sini, bilamana “shilah” atau akses kita kepada Allah tetap dipertahankan.

Nasab langit dan bumi

Agar dapat menjalankan tugas menyelenggarakan kehidupan yang baik “ hayatan thayyibah” dan karenanya manusia meraih kemuliaan, mereka dilengkapi dengan dua nasab, yaitu nasab bumi (ardhi) dan nasab langit (samawi). Dengan nasab bumi manusia merupakan makhluk materi, seperti binatang, tetumbuhan atau bahkan benda padat (jamadat). Orang-orang yang hanya mengakses nasab materinya, wujud mereka tak lebih dari seonggok daging, dengan aktifitas biologis seperti binatang, tetapi punya nafsu angkara murka seperti syetan. Apa yang mereka lakukan adalah karena dorongan hawa nafsu belaka, tidak ada pertimbangan nilai, halal-haram, maslahat atau mafsadat. “Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang dan makan seperti binatang, dan neraka adalah tempat kembali mereka” (QS. Muhammad: 12). Ketika akal mereka ditunggangi hawa nafsu syaithaniah, maka kelakuan jahat yang ditimbulkannya melebihi kejahatan binatang buas sekalipun. Anak tega membunuh ayah atau ibu kandungnya sendiri, suami atau isteri rela menghabisi nyawa pasangannya sendiri dengan cara yang sadis, sebagaimana diberitakan akhir-akhir ini. Akal dan kalbu mereka yang merupakan alat untuk mengakses nasab samawinya menjadi tidak berfungsi. Akibatnya “mereka itu bagaikan binatang bahkan lebih sesat lagi. Dan mereka adalah orang-orang yang lupa (terhadap nasab samawinya)” (QS. Al A’raf: 179).

Nasab samawi atau nasab rabbani, meminjam istilah Syekh Muhammad Al Ghazali, adalah akses dan jalan yang tepat untuk meraih kemuliaan. Perhatikan firman Allah Swt. : “Siapa yang menginginkan kemuliaan (al ‘izzah) maka kemuliaan itu seluruhnya kepunyaan Allah. Kepada-Nya naik ucapan yang baik (al kalimutthayyib) dan amal shalih…” (QS. Fathir: 10). Maka usahakan dan raihlah kemuliaan itu dengan kalimutthayyib dan amal shalih. Sebagai makhluk yang berakal, manusia meraih prestasi dan kemajuan dengan ilmu. Tetapi ilmu yang membawa kebahagiaan dan kemuliaan adalah yang bersinerji dengan iman. “Allah niscaya mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu beberapa tingkat” (QS. Al mujadilah: 11).. Ilmu yang terlepas dari iman merupakan ilmu hitam dan mengakibatkan mafsadat atau kerusakan (destruksi). Yang kita perlukan adalah ilmu yang bermanfaat. Dengan ilmu yang bermanfaat rezeki menjadi lapang dan amal kebajikan diterima sebagai pengabdian.


Andalan yang tidak dapat diandalkan

Yang mudah nampak kepada banyak orang adalah akses ke bumi terhadap dunia dan harta benda. Karenanya banyak yang mengandalkan kekayaan atau jabatan untuk meraih kemuliaan. Mereka berkeyakinan bahwa dengan uang apapun bisa diadakan dan dibeli. Sedang dengan jabatan atau kedudukan apapun bisa dilakukan dan uang bisa diraih. Sesungguhnya mereka telah keliru sebagaimana kelirunya Qarun dan Fir’aun dahulu. Harta dan kedudukan mereka telah menjadi adzab buat mereka sendiri, kemudian menjadi bahan kutukan dari generasi umat manusia hingga akhir zaman. Sejarah modern kembali mencatat ‘sorrow ending’ (akhir yang menyedihkan) sejumlah hartawan dan penguasa yang putus aksesnya dengan langit. Padahal tanpa akses rabbani dan perspektif ukhrawi; harta, tahta, pengikut atau tentara, wanita dan apapun juga, hanyalah dunia. Umurnya pendek dan fana, bahkan bisa mengakibatkan sebaliknya dari apa yang diharapkan.

Diilustrasikan dalam sebuah Hadits, bahwa orang yang menikahi wanita semata-mata karena hartanya, harta itulah yang akan mengakibatkannya bangkrut. Jika menikahinya karena status sosial semata, maka kedudukannya itu justeru yang akan membawa pada kehinaan. Dan yang menikahinya karena kecantikan semata, maka kecantikannya itu akan mengakibatkan kesedihan dan penderitaan baginya. Hadits ini ditutup dengan kata kunci untuk memilih nasab samawi: “pilihlah yang beragama”.

Tapi bila disinerjikan dengan nasab samawi dan akses rabbani, semua itu akan menjadi “al baqiyatusshalihat” yakni perkara yang baik dan memberi kebaikan secara lestari. “Harta dan anak adalah hiasan kehidupan dunia, dan perkara yang kekal serta baik adalah lebih baik pahalanya di sisi Allah dan lebih dapat diharapkan” (QS. Al Kahfi: 46)

sumber : personal n google

Tidak ada komentar: